16 October 2008

Asosiasi Perkirakan Target Omzet Ritel 2008 Tercapai

16/10/08 14:09

Jakarta (ANTARA News) - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memprediksi target pertumbuhan omzet bisnis ritel dalam negeri tahun ini sebesar 15 hingga 20 persen dapat dicapai.

Menurut Ketua Ketua Harian Aprindo Tutum Rahanta, optimisme pencapaian target itu didasari indikasi masih adanya pembukaan toko baru dan naiknya harga barang yang menunjukkan bahwa sektor riil tumbuh.

Dihubungi di Jakarta Kamis, Tutum mengatakan, pendapatan selama bulan puasa dan menjelang Idul Fitri (Lebaran) kemarin memang tidak sebaik tahun-tahun sebelumnya, namun ini lebih karena berubahnya pola belanja masyarakat.

"Lebaran kali ini tidak sebaik Lebaran lalu, tetapi bukan patokan juga, tren konsumsinya sudah mulai berubah. Orang tidak lagi banyak berbelanja pada Lebaran saja, tapi jauh sebelum Lebaran. Pola belanjanya merata pada setiap bulan," kata dia.

Terkait krisis keuangan dunia baru-baru ini, Aprindo meminta pemerintah mengantisipasi agar sektor riil tidak terpengaruh sehingga tidak terjadi peningkatan jumlah pengangguran dan melemahnya daya beli masyarakat.

Tutum yang mengatakan bisnis riil belum terpengaruh krisis itu mengatakan, Aprindo telah menargetkan pencapaian omzet Rp58,5 triliun, naik 17 persen dari tahun sebelumnya yang Rp50 triliun.

TV, Kamera dan Mesin Cuci Bebas Pajak Barang Mewah

Sat, 11 Oct 2008 10:29:00 WIB

Jakarta - Pemerintah menetapkan pembebasan pajak penjualan barang mewah (PPn BM) terhadap 3 produk elektronik yaitu Kamera Fotografi, TV dan Mesin cuci. Insentif ini diharapkan bisa meningkatkan daya saing produk industri dalam negeri ditengah membanjirnya produk impor.

Pembebasan PPn BM diberikan kepada TV sampai dengan ukuran 29 inchi (sebelumnya 21), mesin cuci dengan kapasitas 6 hingga 10 kilogram dan kamera fotografi dengan harga jual atau nilai impor diatas Rp 2 juta (sebelumnya Rp 500 ribu).

"Untuk mesin cuci keperluan rumah tangga diatas 10 kg dikenakan PPn BM 10% karena harganya masih belum terjangkau oleh masyarakat golongan menengah," kata Kabiro Humas Departemen Keuangan, Samsuar Said di kantornya, Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat Malam (10/10/2008).

Aturan ini tertuang dalam Permenkeu No 137/PMK.011/2008 tertanggal 7 Oktober 2008 mengenai perubahan kedua terhadap Permenkeu Nomor 620/PMK.03/2004 tentang jenis barang yang kena pajak yang tergolong barang mewah.

"Insentif diberikan dengan memperhatikan kondisi perekonomian saat ini, terhadap barang kena pajak kebutuhan masyarakat banyak berupa televisi, mesin cuci dan kamera," jelasnya.(hen/dro)

10 October 2008

Kehadiran Lotte berpotensi gencet supermarket

Economy Thu, 09 Oct 2008 08:18:00 WIB

Jakarta - Nielsen Indonesia memperkirakan pertumbuhan supermarket akan
makin tergencet dengan kehadiran raksasa hipermarket asal Korea Selatan
Lotte Group di Indonesia.

Yongky Surya Susilo, Direktur Riteler dan Pengembangan Bisnis Nielsen
Indonesia, mengatakan saat ini supermarket terus berkurang kontribusinya
terhadap total omzet ritel kebutuhan sehari-hari di dalam negeri.

"Tren kontribusi supermarket berkurang 0,5% per tahun dalam 10 tahun
terakhir ini terhadap total omzet kebutuhan sehari-hari secara nasional.
Dengan adanya Lotte, konsep supermarket akan makin terimpit," kata
Yongky kepada Bisnis, kemarin.

Saat ini ada tiga merek hipermarket yang beroperasi di Indonesia yaitu
Hypermart (39 toko), Carrefour (41 toko ditambah 29 gerai setelah
mengakuisisi Alfa), dan Giant (22 toko).

Menurut dia, peritel supermarket berjaringan harus cepat belajar
strategi bisnis, agar bisnisnya mampu bersaing. Saat ini tiga
supermarket dalam negeri yang memiliki banyak adalah Yogya, Ramayana,
dan Matahari.

Dengan masuknya toko skala besar seperti hipermarket membuat konsep
supermarket menjadi kuno. Meskipun penampilannya sama-sama sebagai gerai
yang menjual berbagai kebutuhan sehari-hari, manajemen hipermarket dan
supermarket sangat berbeda.

Pertama, hipermarket berbeda dalam manajemen logistik karena menyediakan
jumlah barang sampai lima kali lipat lebih banyak dari supermarket.
Hipermarket menjual 30.000-50.000 jenis barang, sedangkan supermarket
12.000 jenis produk.

Kedua, program pemasaran juga agresif, karena peritel harus mampu
menyedot ribuan pengunjung datang ke satu toko per harinya, sementara
target di supermarket cuma untuk kunjungan ratusan konsumen.

Ketiga, peritelnya harus mampu melakukan ekspansi gerai secara cepat
untuk mencapai skala ekonomi. Dengan begitu modal peritel harus kuat
untuk bisa bersaing di format hipermarket.

"Karena berbeda, hipermarket lokal sekali pun harus merekrut ekspatriat
untuk menjalankan manajemennya" kata Yongky.

Meski begitu, Yongky optimistis peritel lokal yang memiliki jaringan
supermaket bisa belajar teknik menjalankan hipermarket , seperti halnya
Matahari yang memiliki 39 Hypermart.

Memang ada yang kalah bersaing. Pemain lokal PT Alfa Retailindo Tbk yang
semula fokus menjalankan supermarket Alfa kemudian melebarkan sayap
hipermarket Alfa Gudang Rabat, tetapi akhirnya menutup toko skala
besarnya dan menjual 75% sahamnya ke PT Carrefour Indonesia.

"Ada juga peritel yang karena memiliki lahan besar di wilayah
Tasikmalaya membuat hipermarket, tapi belum jalan," kata Yongky.

Menyempit

Dalam kesempatan terpisah Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja
Indonesia (APPBI) A. Stefanus Ridwan S mengungkapkan saat ini ada tren
peritel supermarket, yang membuka gerainya di pusat belanja, mengecilkan
luas tokonya.

Stefanus mengatakan yang saat ini masih mampu untuk menyewa lahan
belanja cukup besar, hanya untuk supermarket berkonsep baru misalnya
dengan melengkapinya dengan restoran.

"Peritel supermarket yang semula menyewa lahan 3.000 m2 di dalam mal,
sekarang ini hanya minta disediakan toko dengan luas 2.000 m2," kata
Stefanus. (linda.silitonga@bisnis.co.id)

Oleh Linda T. Silitonga
Bisnis Indonesia

Sumber: Bisnis Indonesia

Lotte Mart buys out PT Makro Indonesia

October 08, 2008

Lotte will be the first local company to set foot in the Southeast Asian
retail market.

Leading department store chain Lotte Shopping Co. announced yesterday
that it will buy a 75 percent stake in discount store chain PT Makro
Indonesia for 294 billion won ($223 million).

Lotte's affiliate in Singapore, Lotte Shopping Holdings Pte, is set to
buy the remaining 25 percent stake. PT Makro Indonesia will be wholly
owned by Lotte at 385.9 billion won and all stores will be renamed Lotte
Mart.

PT Makro Indonesia, which operates 19 stores in the country, is owned by
Dutch wholesaler SHV Holdings. SHV in July said that it would sell its
stake in PT Makro Indonesia to expand their business in Thailand and
hired HSBC Holdings to find a buyer for the discount chain.

PT Makro Indonesia launched in 1991 and last year saw 478.3 billion won
in sales. This year, the company expects sales to increase by 22
percent.

"The discount store market in Korea is going to be saturated in the near
future," said Nho Byung-yong, head of Lotte Mart. "This acquisition
signals the company's participation in the rapidly developing retail
sector in Asia."

With this purchase, Lotte Mart now has 27 branches overseas, including
eight in China bought last December from Makro China, as well as 58
branches in Korea. The company also plans to open a Lotte Mart store in
Vietnam later in the year.

Shinsegae-owned discounter E-Mart is neck-and-neck with Lotte with 16
branches in China and 117 branches in Korea.

At present, although discounters including France-based Carrefour,
Makro, Hong Kong-based Dairy Farm and Indonesian discount chain Matahari
are in Indonesia, their market share in the whole retail sector is only
8 percent.

"Indonesia's retail sector is fourth globally in population with high
economic growth in the 6 percent region. The country's retail industry
is growing around 10 percent annually, and its discount store sector is
growing 30 percent every year," stated Lotte Shopping.

By Cho Jae-eun Staff Reporter Joong Ang Daily [jainnie@joongang.co.kr]

07 October 2008

Imbas Krisis Finansial Global

JAKARTA - Pendapatan industri ritel domestik diproyeksi bakal mengalami
penurunan menyusul dampak krisis finansial di Amerika Serikat (AS)
terhadap perekonomian dalam negeri.

Ketua Harian Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta
mengatakan, penurunan pendapatan tersebut akan terjadi bila dampak
krisis finansial AS menggerus pendapatan konsumen domestik.

"Daya beli masyarakat akan terpengaruh dengan krisis finansial di AS.
Bila hal itu terjadi otomatis pendapatan ritel akan menurun secara
signifikan dibandingkan tahun 2007 lalu," ujarnya, di Jakarta, Selasa
(7/10/2008).

Tutum mengungkapkan, saat ini banyak kontrak pembelian ritel yang sudah
direvisi menyusul krisis finansial di AS. Terlebih, lanjutnya, sektor
ritel dalam negeri masih bergantung kepada perbankan. "Perbankan masih
menjadi andalan pembiayaan ritel," kata dia.

Sebetulnya, kata Tutum, tren penurunan pendapatan sektor ritel sudah
terasa menjelang Lebaran lalu. Penjualan barang-barang elektronik
misalnya, tidak terpengaruh oleh momen hari raya. "Hanya penjualan
pakaian dan makanan selama Lebaran mengalami peningkatan yang
signifikan," katanya. (Eko Budiono /Sindo/ade)

29 September 2008

Perijinan Ritel Modern Harus Dihentikan

Senin, 29 September 2008 | 05:43 WIB

JAKARTA, SENIN - Pemerintah agar tidak memperpanjang dan memberikan
perijinan baru bagi ritel modern yang semakin agresif mengembangkan
sayapnya hingga ke pelosok bekerjasama dengan perusahaan ritel lokal
sehingga mematikan pedagang tradisional.

"Harus seperti di negara maju. Di Paris misalnya Carrefour hanya ada
satu, jaraknya 60 mil dari Paris, tapi di sini dibiarkan untuk menghajar
pasar tradisional," kata Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin)
Adi Sasono ketika diminta tanggapannya mengenai semakin agresifnya
pembangunan ritel modern hingga ke pelosok mendekati pasar-pasar
tradisional di Jakarta, Minggu (28/9).

Keberadaan ritel bermerek asing tersebut dinilai Dekopin sebagai sebuah
ancaman bagi keberadaan kios atau pedagang ritel kecil tradisional. "Itu
bukan persaingan tapi pembantaian ekonomi rakyat oleh bangsa sendiri,
oleh pemerintah sendiri. Itu harus dihentikan. Ini harus dihentikan
tidak boleh dibiarkan terus," kata Adi.

Menurut dia, satu ritel modern bisa membunuh 20 ritel setempat. Bahkan
para pemasok lokal juga ikut terkena dampaknya. "Jadi ekonomi lokal akan
merosot kalau kita biarkan asing menguasai ritel kita sampai ke
polosok," katanya.

Dekopin, lanjutnya, berusaha untuk menyadarkan masalah ini bekerjasama
dengan Asosiasi Pedagang Pasar dan pemda-pemda.

Sementara itu Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia
(APPSI) DKI Hasan Basri mengatakan, pihaknya akan terus melakukan
berbagai bentuk perlawanan seperti gugatan hukum, dan aksi massa. "Kami
sudah minta ke gubernur DKI untuk menghentikan perijinan ritel modern,"
katanya.

Keberadaan ritel modern, lanjutnya, untuk wilayah DKI sudah diatur
melalui Perda Nomor 2 Tahun 2002. Dalam Perda tesebut antara lain
disebutkan jarak antara pasar modern dengan tradisional sekitar 2,5 km.
Begitu juga dengan mini market atau supermarket jaraknya antara 100
sampai 300 meter.

Namun faktanya, menurut dia, begitu banyak ritel modern dari skala besar
seperti hipermarket, supermarket hingga minimarket yang bebas tumbuh.
"Kita mengharapkan pemerintah memiliki ketegasan menjalankan kebijakan
tersebut," katanya.

Mengenai Perpres 112 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional,
Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern, Hasan Basri mengatakan, APPSI sedang
melakukan yudicial review terutama pasal yang menyebutkan ritel
tradisional dan modern disamakan posisinya secara hukum. "Padahal secara
jelas, kami ini para pedagang pasar tradisional adalah pemilik ulayat di
pasar tradisional, dan mereka ritel modern asing adalah pendatang. Ini
sudah sangat mengkhawatirkan," katanya.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, katanya, sekitar 15 ribu kios di
pasar tradisional tutup akibat tidak mampu bertahan dan semakin turunnya
tingkat hunian pasar.

EDJ

26 September 2008

RUPS Agis setujui akusisi Comsar dan Erafone

Economy Fri, 26 Sep 2008 16:26:00 WIB

oleh : Pudji Lestari

Jakarta - Pemegang saham PT Agis Tbk menyetujui rencana perseroan untuk
mengakuisisi dua perusahaan dibidang perdagangan telepon selular
(handphone).

Direktur Agis, Steven Kesuma mengatakan semua agenda rapat umum pemegang
saham telah disetujui hari ini. Agenda rapat itu adalah perubahan
anggaran dasar, perubahan tujuan penggunaan dana penawaran umum terbatas
(PUT) III, dan persetujuan atas rencana perseroan untuk memperoleh
pinjaman dari pihak ketiga sebesar Rp500 miliar.

Steven menambahkan perseroan saat ini belum memperoleh komitmen pinjaman
darimanapun. "Kami belum memperoleh komitmen pinjaman, rapat ini hanya
meminta persetujuan pemegang saham untuk memberikan corporate guaranty
(jaminan perusahaan)," tegasnya usai RUPSLB di Menara Kebon Sirih,
Jakarta sore ini.

Pemegang saham juga menyetujui rencana Agis untuk membeli 30% saham
Comstar Mobile Pte Ltd senilai Rp530 miliar dan 30% saham PT Erafone
Artha Retailindo senilai Rp10 miliar.

Untuk membeli saham kedua perusahaan tersebut akan menggunakan dana
hasil PUT III senilai Rp700 miliar yang telah diraupnya pada Februari
2008.

Comstar adalah perusahaan yang bergerak di bidang distribusi handphone
sedangkan Erafone bergerak dibidang perdagangan ritel handphone.

Menurut dia, akuisisi ini dapat meningkatkan kinerja perseroan dimasa
mendatang, tetapi dia tidak dapat menyebutkan proyeksi kinerja perseroan
pasca akuisisi. Dia menambahkan tahun lalu perseroan telah masuk ke
bisnis multimedia. Dengan akuisisi terbaru ini, perseroan akan merambah
bisnis distribusi dan perdagangan handphone.

Agis, lanjut dia, akan menambah merek handphone yang diperdagangkan
kedua perusahaan yang akan diakuisisi tadi yakni merek Nokia, Sony
Ericsson dan Samsung.

Sumber: Bisnis Indonesia

18 September 2008

Pasar Modern Harus Jauhi Pasar Tradisional

Kamis, 18 September 2008 | 10:10 WIB

JAKARTA, KAMIS - Sebentar lagi, para peritel raksasa harus menyingkir
dari muka pedagang tradisional. Ini adalah salah satu poin yang tertuang
dalam aturan teknis pelaksanaan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor
112/2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat
Perbelanjaan, dan Toko Modern.

Kemarin, Departemen Perdagangan (Depdag) kembali menggodok aturan
turunan tersebut. Calon aturan pelaksanaan dari Perpres Pasar Modern ini
dalam bentuk Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag).

Sekretaris Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Depdag, Gunaryo
bilang, Permendag bakal terbit sebelum akhir tahun ini. "Salah satu yang
diatur adalah letak pasar modern harus jauh dari pasar tradisional yang
telah ada," kata Gunaryo, Rabu (17/9).

Sayang, Gunaryo masih merahasiakan jarak minimal antara pasar modern
dengan pasar tradisional. Alasannya, pemerintah daerah yang mengatur
masalah jarak tersebut. "Letaknya itu harus mengikuti rencana umum tata
ruang dan wilayah milik pemerintah daerah," bebernya.

Selain soal jarak, Permendag juga memuat ketentuan tentang sistem
zonasi. Yakni, luas usaha pasar modern skala besar tidak boleh kurang
dari 1.200 meter persegi. Peritel modern juga wajib menggandeng usaha
kecil mikro dan menengah (UMKM), serta aturan tentang syarat perdagangan
(trading term). "Ketentuan-ketentuan ini berlaku untuk investasi ritel
baik lokal mau pun asing unaryo

Dia mengakui, banyak pedagang pasar tradisional yang masih khawatir
kendati sudah terbit Perpres Pasar Modern. "Sekarang terbukti di
beberapa daerah banyak pasar tradisional terpinggirkan," ujarnya.

Ini semua gara-gara isi Perpres Pasar Modern belum bisa berjalan. Aturan
ini masih perlu aturan turunan sebagai petunjuk pelaksanaannya. Maka
dari itu, Depdag berjanji segera merilis Permendag.

Pedagang pasar menolak

Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), Ngadiran tetap
menolak Perpres Pasar Modern. APPSI berencana mengajukan uji materi atau
judicial review ke Mahkamah Agung, guna membatalkan Perpres Pasar
Modern. "Banyak klausul dalam Perpres yang tidak benar. Seperti
ketentuan soal izin usaha pasar modern berlaku seumur hidup. Sementara
pasar tradisional, setiap 20 tahun harus dikaji kembali. Ini kan tidak
adil," katanya.

Ngadiran bilang, APPSI pernah mengusulkan izin usaha pasar modern dikaji
setiap lima tahun. "Tapi pemerintah tak menerima usul kami,"
ujarnya.(Nurmayanti)


Sumber : KONTAN

10 September 2008

Carrefour Diseret ke KPPU

10 Sep 2008 16:50:00 WIB

Jakarta - Peritel raksasa asal Perancis, Carrefour, dilaporkan ke Komisi
Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Carrefour diduga mendominasi pasar
ritel di Indonesia terutama setelah mengakuisisi PT Alfa Retalindo Tbk.

Laporan tersebut disampaikan sebuah lembaga riset Partisipasi Indonesia
(PI), Rabu (10/9/2008). PI menduga aktivitas bisnis Carrefour telah
melanggar Undang-undang Nomor 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha tidak Usaha.

"Pelaku usaha yang bergantung pada sektor ini mengkhawatirkan adanya
penyalahgunaan posisi dominan, akibat posisi yang terlampau dominan
dalam pasar. Hal tersebut, bukan saja merugikan peritel, pemasok, dan
warga masyarakat yang bergantung pada sektor ini, tetapi juga merugikan
perekonomian nasional secara umum," ujar Managing Director PI Arie
Ariyanto dalam siaran persnya.

Menurut PI, sebelum mengakuisisi Alfa, Carrefour telah memiliki pangsa
pasar 42,3%. Pangsa pasar ini adalah 23,2% lebih tinggi atau lebih dari
dua kali lebih besar dibandingkan dengan pangsa pasar Hero, yang
merupakan pesaing terdekat Carrefour. Akusisi Alfa pun mendongkrak
pangsa pasar menjadi hampir 50%.

"Bahkan jumlah gerai Carrefour di Indonesia kini sudah melebihi jumlah
gerai di negara asalnya, Perancis. Peningkatan pangsa pasar Carrefour
yang begitu cepat, dikhawatirkan berpengaruh negatif terhadap
persaiangan usaha jika tidak ada equal playing field," tambahnya.

Selain melaporkan ke KPPU atas dugaan persaingan tidak sehat, PI juga
menuntut KPPU untuk membatalkan akuisisi Alfa Retalindo Tbk oleh pihak
Carrefour karena akuisisi tersebut diduga menimbulkan persaingan usaha
tidak sehat.

PI juga mendesak dilakukan amandemen terhadap UU nomor 5 tahun 1999 atau
mendorong percepatan keluarnya PP pemerintah untuk memberikan kewenangan
kepada KPPU, seperti diatur dalam pasal 29 ayat (2) dan 29 Undang-Undang
No 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak
Sehat (UU Anti Monopoli), berupa pemberlakuan pre-notification sebelum
merger atau akuisisi.

Terakhir, PI mendesak pemerintah agar segera merumuskan aturan hukum
yang mengatur prinsip equal playing field dalam bisnis ritel, khususnya
mengenai kesepakatan merger dan akuisisi, trading term, dan bentuk
penyalahgunaan posisi dominan.(lih/ddn)

Sumber: detikcom

Matahari resmikan konsep baru

Matahari resmikan konsep baru

JAKARTA (Bisnis.com): PT Matahari Putra Prima Tbk meresmikan konsep baru
Matahari Department Store yang lebih nyaman untuk meningkatkan pelayanan
kepada pelanggannya.

Gerai pertama yang dibuat dengan konsep baru tersebut dilakukan di
Supermal Karawaci yang diresmikan hari ini. Hadir dalam acara tersebut
jajaran direksi dan manajer toko serta pemasok Matahari Department
Store.

"Sangat membanggakan bagi kami dapat mempersembahkan konsep terbaru
Matahari Department Store bagi pelanggan saat gerai kami memasuki usia
ke-50 tahun," kata Travis Saucer, CEO Matahari Department Store.

Dengan konsep baru, gerai Matahari Department Store menjadi lebih luas,
lebih banyak merek yang dijual ketimbang gerai sebelumnya, dan pelanggan
mendapatkan toko yang lebih nyaman.

Matahari Department Store Supermal Karawaci menyediakan sepatu hingga
250.000 pasang, area kecantikan dengan konsep baru.

Konsep baru Matahari department Store juga akan dikembangkan di gerai
yang ada di Pluit, Jakarta pada November, di Pejaten, Jakarta serta Ratu
Indah, Makassar pada Desember, sedangkan di Mal Tunjungan Plaza Surabaya
pada pertengahn 2009. (tw)

04 September 2008

Kenaikan PPnBM Matikan Produk Lokal

Kamis, 4 September 2008 | 20:59 WIB

JAKARTA, KAMIS - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo)
Benjamin J Mailool mengharapkan pembahasan Rancangan Undang-Undang Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (RUU PPN dan
PPnBM) harus benar-benar akomodatif karena berdampak pada sejumlah
sektor perekonomian nasional.

"Contohnya bila tidak akomodatif maka bisa mematikan sejumlah produk
lokal," kata Benjamin usai rapat kerja dengan Panitia Kerja RUU PPN dan
PPnBM di Gedung DPR/MPR RI Jakarta, Kamis (4/9).

Menurut dia ada produk lokal yang konsumennya hanya untuk kalangan
tertentu saja dan bila PPnBM produk tersebut dinaikkan akan mahal
mengakibatkan konsumen lebih memilih berbelanja ke Singapura. "Apalagi
karena PPnBM di Singapura lebih rendah dan dengan barang yang sama di
Indonesia lebih mahal," kata dia.

Namun, lanjut Benjamin, kalau PPnBM diturunkan maka Indonesia akan
banjir barang produksi dari luar negeri mengakibatkan harga lebih murah
dan tentu saja bisa kalah bersaing dengan produk lokal. "Tapi di satu
pihak kalau itu dinaikkan membahayakan karena beberapa orang Indonesia
belanja barang mewah itu ke luar negeri," katanya.

Untuk jalan tengahnya, Benjamin meminta perlunya menginventarisir produk
yang perlu dinaikkan dan diturunkan PPnBMnya. "Produk yang yang tak
bersaing dengan produk lokal itu PPnBM-nya lebih baik diturunkan jadi
tidak sampai mematikan produk lokal. Jadi harus ada kategorisasi mana
yang dinaikkan PPnBM-nya dan mana yang tidak perlu," katanya. (Aco)

01 September 2008

Carrefour catat untung US$1,1 miliar

Carrefour catat untung US$1,1 miliar

oleh : Berliana Elisabeth S.

PARIS (Bloomberg): Carrefour SA, peritel terbesar kedua dunia, mencatat kenaikan laba bersih semester I 2008 sebesar 1,2% menjadi 750 juta euro (US$1,1 miliar) melampaui perkiraan analis.

Para analis yang disurvey Bloomberg memperkirakan laba bersih raksasa pasar swalayan ini sebesar 743 juta euro.

Kenaikan untung Carrefour ini ditopang meningkatnya permintaan pasar grosir swalayan di negara berkembang dan melonjaknya penjualan di Prancis.

Chief Executive Officer Carrefour Jose Luis Duran mengatakan penjualan di Prancis, negara asal perusahaan, akan semakin baik pada periode Juli dan Agustus jika dibandingkan penjualan pada kuartal kedua 2008.

Untung Carrefour ini juga ditopang peningkatan pembelian tunai akibat penerapan diskon. Harga saham toko swalayan yang gerainya juga beredar di Indonesia ini meningkat hari ini hingga tertinggi dalam tiga pekan di Paris.

"Laporan keuangan ini menjadi sentimen positif bagi saham Carrefour, bahkan target akhir tahun akan kembali meyakinkan investor," kata Sanford C. Bernstein, analis Christopher Hogbin.

Harga saham Carrefour melonjak 1,73 euro atau 5,1% menjadi 35,43 euro pada pukul 9:03 a.m. di Paris hari ini, sedangkan tahun ini harga sudah terkoreksi 34%. Harga saham Carrefour terkoreksi 2,2% kemarin.

Carrefour juga melaporkan perusahaan berencana memangkas 100 juta euro dari biaya operasional hingga akhir tahun.

Duran pada bulan lalu berjanji untuk menurunkan harga di Prancis untuk mengatasi penurunan penjualan hipermarket di negeri itu.

Pemotongan harga jual juga sudah dilakukan pesaing ketatnya di Prancis yakni Auchan SA dan E.Leclerc, yang nilainya mencapai setengah dari pendapatan Carrefour.

Pada semester I 2008 penjualan naik 8% menjadi 47,1 miliar euro dan meningkat 3,1% pada outlet yang baru dibuka tahun lalu. Pendapatan meningkat 40% di Amerika Latin dan 8,2% di Asia, dan di toko Prancis meningkat 1,5%.

Carrefour akan membuka hipermart di Rusia pada awal 2009 dan toko pertama di Bulgaria tahun ini, kata Duran.
 
 
 
 

Catur Sentosa, Targetkan Pendapatan Rp2,6 T

JAKARTA - PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP), pengelola ritel
supermarket bahan bangunan Mitra10, menargetkan pendapatan usaha 2008
sebesar Rp2,6 triliun.

"Dengan melonjaknya kinerja penjualan CSAP yang berasal dari tiga unit
bisnis strategisnya, perseroan optimistis mampu meraih target pendapatan
sebesar Rp 2,6 triliun pada 2008," ujar Presiden Direktur CSAP Budhyanto
Totong, dalam keterangan tertulis yang diterima okezone, di Jakarta,
Senin (1/9/2008).

Budhyanto mengatakan, hingga saat ini kontribusi penjualan CSAP ditopang
oleh penjualan bahan-bangunan oleh jaringan Mitra10 (segmen ritel bahan
bangunan) yang mencapai 17 persen kontribusinya di CSAP.

Di samping itu, perseroan juga berencana untuk menggenjot pendapatan
dengan membuka outlet-outlet Mitra10 Superstore secara agresif di
daerah-daerah.

"Hingga akhir 2008, kami akan membuka tujuh outlet Mitra10. Sedangkan di
2009, kami menargetkan untuk membuka 10 outlet di berbagai kota.
Sehingga perusahaan dapat terus memanfaatkan momentum pertumbuhan
tingginya," paparnya.

Adapun, hingga akhir tahun ini, CSAP melalui Mitra10-nya akan membuka
tiga gerai lagi, yaitu di Gading Serpong, Medan dan Denpasar.

25 July 2008

Penjualan Hero Tumbuh 10,9%

JAKARTA - PT Hero Supermarket Tbk (HERO) mengalami pertumbuhan penjualan
10,9 persen pada semester I-2008, menjadi Rp2,735 triliun dari Rp2,467
triliun pada periode sama tahun lalu. Selain penjualan, laba usaha juga
tumbuh mencapai Rp55,6 miliar.

"Kenaikkan tersebut disebabkan marjin yang meningkat dan pengontrolan
biaya. Hasil tahun lalu, termasuk biaya restrukturisasi sebesar Rp5,8
miliar," ujar Presiden Direktur HERO John Callagan, melalui keterangan
tertulis di Jakarta, Jumat (25/7/2008).

Menurutnya, hasil tersebut merupakan hasil kerja dari seluruh elemen
yang ada di perusahaan. "Kami gembira melaporkan bahwa semua format
bisnis berkinerja baik walaupun di tengah persaingan dan tekanan
inflasi," jelas John.

Menghadapi setengah tahun kedua, perseroan akan tetap waspada karena
kondisi perdagangan kemungkinan akan sulit. Meskipun demikian, menurut
John, perseroan berada dalam posisi yang baik untuk menghadapi
tantangan-tantangan apapun.

Perseroan melayani pelanggannya melalui beberapa format ritel yang
berbeda yang tersebar di berbagai kawasan di Indonesia. Per 30 Juni
2008, perseroan memiliki 22 gerai Giant Hypermarket, 58 gerai Hero
Supermarket, 44 gerai Giant Supermarket, 168 gerai toko kesehatan dan
kecantikan Guardian, dan 99 mini market seperti Starmart dan Mini-Mitra
dan mempekerjakan lebih dari 10 ribu karyawan. (Juni Triyanto
/Sindo/rhs)

14 July 2008

Retail Pricing Strategy

Retail Pricing Strategy

One of the most crucial areas of decision making for retailers is pricing. Yet, we have found that small firms often do not have well-conceived pricing plans. And many such firms seem to panic (or ignore the problem) when large discount-oriented retailers enter their trading areas – or become more aggressive. This is not necessary; small retailers can prosper in today's discount-oriented environment, as long as they have a good understanding of their niche in the marketplace.
 
With this in mind, we have prepared this six-part series on pricing. We offer a number of tips to help you improve your pricing decisions. In this article, we begin with several questions for you to consider. When you address these questions for your firm, always ask yourself the rationable behind your answers:

    Do you have an overall pricing philosophy? What is it? (high end, medium, or low end)
    What are the characteristics of the people who shop at your store? For what reasons do they shop at your store? (for low prices, for convenience, for service, etc.) Is this consistent with your pricing philosophy?
    How do you compute prices?

When setting prices, do you take all of your operating costs into account? (including your own salary)
    How does your store use manufacturer suggested list prices?
    Are your prices "fair" to the customers who shop at your store? What does the term "fair" mean to you?
    Do you or one of your employees visit competing retailers to check on their prices? Do you check competitors' ads for prices? If you do check competitors' prices, how does your firm react to what you learn?
    How often do you change prices? Does this vary by product category?
    How often do you run sales? Does this vary by product category?
    Do you plan for stock shortages (due to shrinkage and clerical errors) when setting prices? How?
    Do you use price lining? (whereby you sell items at a range of prices, such $12, $17, and $25 dollar ties)
    Do you advertise prices? Where?
    Do you let customers bargain over the prices of any items?
    How do you use prices in competing with larger retailers? (such as Wal-Mart, Home Depot, Toys "R" Us, etc.)
    Have you formed a buying group (cooperative) with other small retailers to get better terms on your purchases?
    Do you use odd prices ($4.95, $59.95) rather than even prices ($5.00, $60)?
When you take a physical inventory, how do you compute the value of the merchandise remaining in stock?
    Do you understand the difference between an initial markup and a maintained markup? Do you use these concepts in setting your prices?
    How are prices displayed in your store? (shelf labels, price tags on individual items, etc.)
    What payment method(s) do you accept? (cash, check, store charge, bank card)
    Do you understand both of these terms: Elastic demand? Inelastic demand?
    What do you think about everyday low pricing
 
By Joel R. Evans, Ph.D.& Barry Berman, Ph.D

10 July 2008

Kalau Bisa, Selengkap Mungkin

Kalau Bisa, Selengkap Mungkin

Hipermarket dituntut menjadi ruang belanja selengkap mungkin, servis

memuaskan, dan tanggap terhadap perkembangan kebutuhan

masyarakat.

Sejak kehadiran ritel modern, pola konsumsi masyarakat Indonesia mengalami

pergeseran. Sebagian massa yang dulu doyan menyambangi pasar tradisional,

sekarang berbondong-bondong lari ke ritel modern. Pasalnya, ritel ini menawarkan

konsep belanja baru yang mengusung kenyamanan, kepraktisan, sekaligus

kelengkapan. Apalagi ritel modern sekelas hipermarket dengan ukuran ruang lebih

besar dan jumlah item produk yang jauh lebih lengkap seperti Makro, Carrefour,

Giant, dan Hypermart.

Konsep “serba ada” yang diusung hipermarket menjadikan ritel modern ini menjadi

tempat distribusi barang apa saja. Bahkan, makin lama sepertinya makin “melahap”

segala produk yang dibutuhkan oleh konsumen. “Kalau orang jauh-jauh pergi ke

hipermarket dan menemukan barang kebutuhannya tidak ada, mereka akan kecewa.

Kelengkapan barang ini harusnya menjadi perhatian penting bagi peritel modern,”

kata Sugiyanto Wibawa, praktisi pemerhati ritel sekaligus Direktur Pengembangan

Ritel PT Hero Supermarket.

Menurut Sugiyanto, hipermarket bertugas menjembatani kebutuhan para produsen

yang ingin menyalurkan produknya dengan konsumen yang mencari produk itu

seturut kebutuhannya. “Kriteria produk masuk ke Giant atau hipermarket lainnya

yang jelas adalah memenuhi kebutuhan konsumen akan barang-barang mainstream.

Itu sudah menjadi sifat hipermarket,” katanya.

Sementara itu, para produsen menyerbu hipermarket karena kondisi di sana lebih

menguntungkan ketimbang pasar tradisional. Produsen bisa memajang produk.

Produk langsung bisa dilihat dan disentuh oleh konsumen. Apalagi kalau

dipromosikan dengan ragam cara yang menarik. “Efek peluncuran produk di ritel

modern ini efeknya jauh lebih cepat,” tutur Sugiyanto.

Lantaran kebutuhan konsumen itu semakin bertambah, pihak peritel umumnya peka

dalam memberikan variasi display barang. Tujuannya untuk menambah variasi

produk sekaligus menambah keuntungan. Termasuk dengan barang-barang yang

sifatnya impulse yang tidak menjadi kebutuhan pokok sehari-hari.

Proses pemajangan produk juga punya aturan tersendiri. Lazimnya, produsen

mendatangi pemilik ritel lebih dahulu. Mereka kemudian mempresentasikan profil

produk berikut keunggulan serta program promosi yang akan dijalankan. Lalu

negosiasi dan agreement pun dibuat. “Sebenarnya, di ritel modern, kami hanya mendisplay

barang saja. Tapi, kalau hanya display dan tanpa promosi, konsumen tidak

akan tahu. Kami harus tahu juga program perkenalan produk dari produsen,”

katanya.

Biasanya, hipermarket sukses melakukan negosiasi mutualisme dengan produsen

maupun distributor. Ada pendapat, bila supermarket sebelumnya menuai margin

laba tinggi dengan mendikte produsen membayar lahan pajang (display price),

hipermarket melakukan jurus potongan harga (discount strategy) dari hasil jual-beli

langsung.

Pada prinsipnya, peritel dan produsen tahu bahwa barang yang akan dipasarkan

melalui ritel modern itu laku jual. Jangan sampai, kata Sugiyanto, produsen sudah

menggelontorkan dana besar kepada pemilik ritel modern, tapi ternyata barangnya

tidak laku. Bagi peritel, kondisi macam ini juga kurang menguntungkan. “Perlu kerja

sama bagaimana membuat produk itu laku,” katanya.

Ada fenomena unik belakangan ini. Banyak produk yang dulunya tidak dipasarkan di

hipermarket, sekarang dijual di sana. Produk yang biasanya dijual di outlet-outlet

specialty, kini sudah turut meramaikan ruang display hipermarket. Kalau kita

menyambangi sebuah hipermarket, voucher seluler juga dijual di sana dan dipajang

di tempat produk yang bersifat impulse (dekat kasir). Tidak hanya itu, di

hipermarket juga ada agen penjualan asuransi, aplikasi kartu kredit, kredit

kendaraan, furnitur, peralatan kantor, sampai urusan hobi.

“Perlu diingat, voucher pulsa sekarang tidak menjadi barang impulse saja. Itu sudah

menjadi kebutuhan basic konsumen. Hampir semua orang pegang handphone

sekarang ini. Ini kerja sama dengan provider di mana ia ingin memasarkan

produknya di outlet sebanyak-banyaknya,” terangnya.

Sementara itu, produk-produk baru yang masuk ke hipermarket umumnya adalah

produk hasil perkembangan teknologi baru pula. Diakui, hampir setiap produk baru

muncul di pasar, tidak lama kemudian produk itu pun ikut berjubel di rak-rak

hipermarket.

“Sebagai pemain ritel, kami selalu mengoptimalkan ruangan yang ada. Selain

menambah pendapatan, yang pertama-tama kami lihat adalah kepuasan pelanggan.

Ritel harus bisa menjadi tempat senyaman mungkin. Produk baru tentu kami

sambut dengan baik,” ujarnya.

Kelengkapan produk tergantung pula pada ukuran ritel modern tersebut.

Minimarket biasanya mampu menampung sekitar 2.000 item barang, supermarket

sekitar 10.000, dan hipermarket bisa mencapai 50.000 macam barang. “Oleh karena

itu, distribusi produk di hipermarket harus melewati proses seleksi sejeli mungkin,”

cetus Sugiyanto.

Perlu diketahui, pendistribusian produk di sebuah hipermarket juga berdasarkan

Majalah MARKETING – Edisi New Distribution Channels / MEI 2008

Copyright@2008 Majalah MARKETING. All Rights Reserved.

 
 
 
 

Raja Ritel Pelopor Harga Murah

Majalah MARKETING – Edisi 02 / 2008

Copyright@2008 Majalah MARKETING. All Rights Reserved. 1

SAM WALTON

Raja Ritel Pelopor Harga Murah

Wal-Mart menguasai dunia ritel di AS. Dengan bergerilya melalui tokotoko

kecil di pinggiran kota, mereka kemudian masuk ke giant retail

dengan konsep “everyday low price”.

Sam Walton, pendiri Wal-Mart, adalah sosok yang berani mengambil kesempatan

dan mampu memanfaatkan setiap peluang yang ada. Lahir dari pasangan Thomas

dan Nancy Walton pada 29 Maret 1918 di Oklahoma, Sam tinggal di perkebunan

sampai berusia lima tahun. Merasa perkebunan tidak cukup untuk menghidupi

keluarga, orangtuanya beralih menjadi juru taksir pinjaman perkebunan.

Begitu pekerjaan ini dimulai, keluarga Walton keluar dari Oklahoma dan mulai

berpindah-pindah kota. Cara hidup seperti ini biasanya membawa trauma bagi

kebanyakan anak-anak, tetapi tidak bagi Sam. Dibesarkan dalam masa-masa depresi,

ia tahu benar bahwa kerja keras dan berhemat adalah cara untuk bertahan hidup.

Sam tumbuh dewasa sebagai laki-laki yang ambisius. Walaupun tidak menjadi siswa

paling pintar di sekolahnya, tekadnya untuk kerja keras menjadikannya siswa yang

unggul. Beberapa prestasi diraihnya sewaktu sekolah dan kuliah, baik di bidang

olahraga, pelajaran, dan organisasi. Belum cukup sampai di situ, ia juga mampu

membantu keuangan keluarganya dengan memerah sapi, mengantar susu, sampai

menjadi pengantar koran.

Tiga hari setelah kelulusannya (tahun 1940), ia mulai memasuki dunia ritel dengan

bekerja di JcPenney’s di Des Moines, Iowa. Gaji sebesar 75 dolar sebulan

diterimanya sebagai management trainee. Sam mendapat banyak pengalaman di

JcPenney’s, tetapi tahun 1942 ia terpaksa mengundurkan diri karena harus

menunggu pelantikan masuk militer untuk Perang Dunia II.

Selama menunggu, ia masih sempat bekerja di dekat Tulsa, Oklahoma. Pada waktu

bekerja dan tinggal di sanalah, ia bertemu dengan Helen Robson yang menjadi

istrinya. Ayah Helen adalah seorang bankir sukses yang kemudian membantu Sam

untuk memulai toko pertamanya.

Impiannya membuka toko sendiri terwujud pada musim gugur 1945. Ia membeli

sebuah toko di Newport dengan bantuan dana 20.000 dolar dari mertuanya dan

5.000 dolar tabungannya sendiri. Toko Sam berasal dari franchise Butler Brothers

yang mengarah ke toserba. Dengan bantuan mereka, toko Sam mampu memimpin

penjualan di 6 wilayah negara bagian. Strategi yang diterapkannya adalah

menyediakan stok barang yang sangat bervariasi, harga sangat murah, lokasi yang

mudah dikunjungi, dan tetap buka lebih lama dari kebanyakan toko lainnya

(terutama waktu Natal).

Sebagai pionir dari strategi discount merchandising, yaitu membeli langsung dari

pemasok yang menawarkan harga paling murah, Sam mampu menjual barang lebih

murah dengan kuantitas lebih banyak. Strategi bermain dalam volume tinggi ini

membuatnya mampu menegosiasikan harga beli yang lebih murah lagi untuk

pembelian selanjutnya. Dengan begitu, volume penjualan dan profitnya pun

meningkat.

Di tahun 1954, Sam kembali membuka sebuah toko bersama kakaknya di sebuah

pusat perbelanjaan Ruskin Heights, Kansas City. Ia akhirnya memutuskan untuk

berkonsentrasi pada bisnis ritel dengan membuka toko-toko yang lebih besar yang

bernama Walton’s Family Center.

Ia mempekerjakan para manajer dan menawarkan mereka kesempatan untuk

menjadi mitra terbatas dan mendapat bagian keuntungan bila mereka mau ikut

berinvestasi. Peluang terbuka pula untuk membuka toko baru di tempat lain bila

toko yang dikelola ternyata sukses. Para manajer yang termotivasi ini selalu

berusaha memaksimalkan keuntungan dan meningkatkan kemampuan manajerial

mereka. Tahun 1962, Sam dan saudaranya sudah memiliki 16 toserba yang tersebar

di Arkansas, Missouri, dan Kansas.

Kesuksesan toko-toko Sam adalah lantaran ia mampu menerapkan ide-ide, membuat

sistem manajemen yang baik, dan mengatur sistem toko-toko tersebut sedemikian

rupa sehingga bisa berjalan dengan sendirinya. Inilah yang merupakan dasar sejarah

Wal-Mart, yang kemudian menjadi ritel terbesar dunia.

Sam Walton mendirikan Wal-Mart pada tahun 1962. Filosofinya adalah

menghormati setiap individu, melayani konsumen dengan baik, dan striving for

excellence. Setiap toko Wal-Mart mempunyai program yang dipimpin oleh para

pegawai lokal, yang tumbuh dan engerti kebutuhan di sana. Wal-Mart menguasai

dunia ritel di Amerika Serikat, bergerilya dengan toko-toko kecil di pinggiran kota,

dan kemudian masuk ke giant retail dengan konsep “Everyday Low Price”.

Wal-Mart adalah perusahaan ritel terbesar di Amerika dan memasuki peringkat

pertama dalam indeks Fortune 500. Pada saat ini, Wal-Mart mengoperasikan lebih

dari 4.150 cabang di seluruh dunia. Dominasinya mencakup Kanada, Meksiko, dan

Inggris Raya. Menurut Fortune 500, Wal-Mart menjadi nomor satu di seluruh dunia

bila dilihat dari penjualannya.

Strategi yang dipakai Sam adalah menjual produk berkualitas tinggi dan punya

brand terkenal, tetapi dengan harga termurah. Nah, agar dapat menjual dengan

harga paling murah, perusahaan menekan biaya dengan memanfaatkan teknologi

canggih semaksimal mungkin dan membuat sistem pergudangan yang baik. Selain

itu, Wal-Mart membuat kesepakatan untuk mengambil barang langsung dari

supplier atau pihak manufaktur—tidak menggunakan perantara (grosir).

Saat ini, Wal-Mart memiliki lebih dari 1.600 toko ritel. Inti bisnis ritelnya dibagi

menjadi 4 divisi: Wal-Mart Stores, Super Centers, Sam’s Club Warehouses, dan

Neighborhood Markets. Wal-Mart Stores dan Super Centers menyediakan “one stop

family shopping”, produk-produk kebutuhan rumah tangga, dan produk-produk

umum lainnya. Sam’s Club adalah sebuah warehouse club khusus untuk anggota.

Neighborhood Markets menawarkan pengalaman berbelanja yang menarik untuk

produk-produk rumah tangga, obat-obatan (farmasi), dan barang-barang umum

lainnya.

Bila ditilik lebih jauh, ada empat poin penting dalam strategi Wal-Mart. Strategi

pertama adalah mendominasi pasar ritel di semua tempat. Sam Walton membuat

filosofi yang masih diikuti oleh perusahaan hingga saat ini. Wal-Mart adalah ritel

yang selalu menerapkan diskon dan selalu berusaha menjual produknya dengan

harga yang semurah mungkin. Walton menggarisbawahi bahwa inti strategi ini

adalah menurunkan harga produk sebanyak mungkin, menurunkan markup, dan

mendapatkan keuntungan dari volume penjualan sebesar mungkin.

Sisi lain dari strategi ini adalah menerapkan sistem kompetisi untuk masing-masing

toko. Masing-masing toko didorong untuk berkompetisi dengan toko lainnya dalam

hal jumlah konsumen, sampai akhirnya toko-toko Wal-Mart meraih dominasi di

pasar ritel lokal di daerah tersebut.

Strategi kedua adalah bertumbuh dengan melakukan ekspansi baik di AS maupun

internasional. Saat ini Wal-Mart mempekerjakan lebih dari 1,3 juta pekerja dan

mempunyai lebih dari 4.000 toko di seluruh dunia. Data ini dengan jelas

memperlihatkan dominasi dan kekuatan Wal-Mart dalam melakukan ekspansi.

Wal-Mart memang sangat agresif melakukan ekspansi. Strategi ekspansi yang

terakhir adalah masuk ke suatu negara, mengambil alih atau membeli ritel-ritel

nasional. Setelah dibeli, Wal-Mart mengubahnya menjadi toko-toko Wal-Mart.

Dengan pengambilalihan perusahaan-perusahaan ritel lokal atau nasional, Wal-Mart

mendapatkan keuntungan berupa hilangnya kompetitor besar, dan mendapatkan

lokasi di tempat strategis sekaligus karyawannya. Ini cara yang efisien dalam

penggunaan dana.

Perusahaan lalu mulai memperkenalkan brand-nya sambil tetap mempertahankan

keadaan outlet yang lama. Secara bertahap, bila toko tersebut sudah untung dan

manajemennya sudah bisa dikendalikan, maka Wal-Mart mulai mendesain ulang

toko tersebut agar menjadi toko Wal-Mart yang sebenarnya, sambil terus

mengendalikan pasar yang ada.

Strategi ketiga adalah menciptakan kesan baik dan kepuasan pelanggan akan brand

Majalah MARKETING – Edisi 02 / 2008

Copyright@2008 Majalah MARKETING. All Rights Reserved.

 
 
 

Penjualan Carrefour kuartal II turun

Kamis, 10/07/2008 13:16 WIB

Penjualan Carrefour kuartal II turun

oleh : Taufik Wisastra

PARIS (Bloomberg): Carrefour SA, peritel terbesar di Eropa, menyebutkan penjualan pada kuartal II menurun karena melemahnya belanja konsumen.

Pendapatan naik 6% menjadi 23,7 miliar euro (US$$37,3 miliar) pada periode tiga bulan yang berakhir 30 Juni, ungkap perusahaan yang berbasis di Paris itu. Angka itu lebih kecil dibandingkan 10% pada kuartal I.

Pendapatan itu juga meleset dari 24,2 miliar euro seperti yang diestimasi oleh rata-rata enam analis dalam survei Bloomberg. Penjualan tidak termasuk akuisisi dan toko baru meningkat 2,2%.

Indeks kepercayaan konsumen di Prancis turun mencapai rekor pada Juni yang memicu Carrefour mengurangi target laba dan pertumbuhan penjualan untuk setahun penuh.

Chief Executive Officer (CEO) Jose Luis Duran menyalahkan kegiatan promosi yang tidak cukup atas penurunan pendapatan 2,3% di gerai negara itu. "Kami ingin merebut kembali pangsa pasar namun sulit. Kami ingin mendorong promosi pada semester II dan merebut kembali pangsa pasar 0,3% yang hilang pada semester I," ujar Duran. (tw)

bisnis.com

 
 
 

04 July 2008

Seluruh Saham PT Makro Indonesia Dijual

Seluruh Saham PT Makro Indonesia Dijual
 
Jumat, 4 Juli 2008 | 04:27 WIB

Laporan Wartawan Kompas, Stefanus Osa Triyatna

JAKARTA, KAMIS- SHV Holdings NV bersama dengan para pemilik saham lainnya di PT Makro Indonesia mengumumkan rencana penjualan seluruh saham Makro Indonesia. Proses lelang diperkirakan selesai menjelang akhir tahun ini. The Hongkong and Shanghai Banking Corporation (HSBC) Limited telah ditunjuk sebagai penasihat keuangan SHV.

Perusahaan ritel modern pertama di Indonesia ini mencatat pertumbuhan penjualan di atas 25 persen per tahun. Saat ini total jumlah Makro Indonesia sebanyak 19 gerai, tersebar di Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

Juru Bicara SHV Joost van Klink dalam siaran persnya yang diterima di Jakarta, Kamis (3/7), mengatakan, Setelah melakukan tinjuan strategis atas kegiatan usaha Makro, SHV memutuskan untuk menjual Makro Indonesia. SHV akan memfokuskan strategi pengembangan Makro di negara lain, khususnya Thailand.

Presiden Direktur Makro Indonesia Kuswanto Gunadi mengatakan, "Makro Indonesia memberi peluang unik dan menarik kepada para pemilik saham baru untuk mengambil alih sebuah perusahaan yang mapan dan dikelola baik ini. Gerai-gerainya pun berada di lokasi strategis, karyawan berpengalaman, sistem kerja yang telah terbukti berjalan lancar dan didukung pelanggan setia."

Menurut Kuswanto, kesejahteraan karyawan adalah prioritas Makro Indonesia. Mereka adalah pihak pertama yang mengetahui keputusan ini. Saat ini pihaknya bersama para karyawan membahas dan menjawab berbagai kekhawatiran yang mungkin terjadi dan memastikan pengambilalihan perusahaan berjalan dengan lancar.

Makro Indonesia memiliki sekitar 2.300 karyawan di 19 gerai. Pelanggannya mencapai 500.000 orang. Setiap gerai menawarkan berbagai produk pangan dan non-pangan untuk kebutuhan sehari-hari dengan pelangan profesional, termasuk hotel, restoran, kafetaria dan katering (Horeka), pedagang eceran dan perusahaan jasa.

Agis kaji akuisisi perusahaan ritel telekomunikasi

Agis kaji akuisisi perusahaan ritel telekomunikasi  
JAKARTA: PT Agis Tbk mengkaji akuisisi perusahaan ritel yang bergerak dalam peralatan telekomunikasi dan telepon genggam yang memiliki lebih dari 100 gerai di pasar tradisional atau domestik.

Rapat pemegang saham Agis pada 27 Juni mengangkat Samuel Lorenzo untuk menggantikan Jhonny Kesuma sebagai direktur utama Agis. Jhonny akan menduduki posisi selaku Presiden Komisaris di perseroan tersebut.

"Mengenai akuisisi, saya belum bisa berkomentar berapa nilainya dan dana akuisisi perusahaan lokal ini dari mana. Namun, kami akan menandatangani sale and purchase agreement pekan depan [pekan ini]," ujar Jhonny kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

Selain akuisisi itu, dia juga mengisyaratkan ke depan akan menggandeng investor asing guna mendukung pengembangan perseroan.

Lorenzo menjelaskan perseroan akan memperbesar distribusi jajaran produk dan memperluas jaringan penjualan distribusi serta jaringan ritel.

Langkah itu seiring dengan pengembangan Agis sebagai perusahaan berlini bisnis produk teknologi informasi, peralatan telekomunikasi dan jasa pelayanan, peranti telepon seluler, dan jasa multimedia.

"Kami ingin menjadi pelaku utama di semua bidang elektronik a.l. untuk rumah tangga, perkantoran, telekomunikasi, dan multimedia," ujarnya.

Untuk mendukung langkah tersebut, belum lama ini Agis menandatangani conditional sale and purchase agreement untuk mengakuisisi Comstar Mobile Pte Ltd senilai Rp500 miliar.

Perusahaan juga akan mengembangkan merek telepon genggam yakni Kozi dan akan didistribusikan ke seluruh kawasan Asia Pasifik. "Melalui jaringan yang dimiliki oleh perusahaan yang akan diakuisisi, perseroan akan lebih mudah dalam memperluas jaringan distribusi house brand Kozi."

Terkait dengan perubahan jajaran manajemen perseroan, Jhonny menjelaskan hal itu merupakan langkah untuk menjadikan perusahaan kian profesional.

Oleh Sylviana Pravita R.K.N.
Bisnis Indonesia